Blog

Jumat, 25 November 2011

Buah Simalakama



Buah simalakama. Dimakan bapak mati,tak dimakan ibu mati.

                Hampir gelap. Basah. Yang ditunggu tak kunjung datang. Saat datang diburu anak-anak yang haus akan hangatnya rumah. Duh,ingin segera singgah ke pelukan Ibu.
                Pelan. Penumpang sekitar 8 orang. Pelajar dan seorang Ibu gendut berjilbab, duduk di sudut sambil bersandar. Ia berteriak seperti memelas,
                “Kiri !...”
                Sopir terus melaju. Suatu ketika Ibuku pernah menyamakan suaraku yang katanya keras seperti sahabat beliau. Jadi,dengan reflek dari impuls ke reseptor sampai efektor aku berteriak pula..
                “Kiri !!!!” Berharap sopir akan memberhentikan angkutan desa ini.
Ciittt…rem menginjak aspal jelek.

Perhatikan apa yang terjadi..

                Terjadilah tragedi  --yang kusebut tragedi tak tahu diri—Ibu gendut malah berkata dengan santainya dengan nada tak tahu malu dan mimik wajah cemberut persis dikejar debt collector, langsung saat itu juga membuatku mual – MUAL-LU sekali.
                “Gak Pak ! Lho mbak nya itu !!” Suara bak sampah yang lagi-lagi membuatku mual.
                Santai sekali..ia melanjutkan kenikmatan duduk di sudut angkot. Mual.
                Teman seperjuanganku hanya melongo, sedangkan aku semakin tolol dibuatnya. Malu? Tidak. Sebal? Iya! Coba kalian buka mata dan pikiran kalian. Kita hidup saling tolong-menolong, homo socius tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Jika lupa,intip buku PKn atau IPS,miris lagi jangan-jangan sudah kau jual di loakan.
                Aku pikir,jika aku bantu untuk mengencangkan suara KIRI,ia tidak akan rugi. Aku juga tidak berharap pahala,jangan berharap pamrih lah..kata Ibuku. Jika aku abaikan dia, bisa saja dia yang rugi, jadi pertanyaannya, yang salah itu aku atau dia? Akui sajalah aku memang bodoh. Pendidikan karakter sudah nanar mungkin ya di mata manusia jaman sekarang. Dimakan peradaban.

                Baiklah..itu hanya intro saja,namun memang kenyataan itulah pengalaman hebat sampai saya merasa menjadi manusia tolol dalam sekejap. Membantu,salah. Ga bantu,salah juga.

                Teman-teman yang baik,bagaimana jika kebingungan ini yang kadang disebut ‘galau’ kita rasakan sebagai orang yang mengagumi,menyayangi, bahkan mencintai seseorang?

                Mudahnya begini, Anda mencintai dia, namun Anda bimbang. Tanda tanya besar pasti kira-kira :
                Apa dia tahu kalo aku sayang dia?
                Apa dia merasakan apa yang aku rasakan?
                Bagaimana responnya,kalo seandainnya aku ‘nembak’dia yaa?

                Perasaan yang tak terdefinisi. Mengutip sedikit , Mario Teguh “Cinta itu tak bisa di logika. Cinta memang terburu-buru,jika tidak pasti itu bukan cinta” (kembali pada individu masing-masing ya saya kira ? Pasti). Lucunya, hanya sebagai pemuja rahasia (dalam konteks ini ditujukan kepada orang yang belum mengatakan cinta), terkadang Anda terbesit rasa cemburu ketika melihat dia dekat dengan orang lain, lebih-lebih orang yang menurut Anda sebagai pesaing tangguh. Tak bisa dipungkiri, jika tidak cemburu itu bukan cinta. Sekali lagi,tergantung Anda bagaimana cara menanggapinya. Rahasia cinta hanya dimiliki Sang Pecinta dan Tuhannya, bukan begitu pembaca sekalian?

                Pentingnya mengatakan cinta,masing-masing Sang Pecinta memiliki pendapat sendiri. Tapi,yang tak Anda sadari, di lain waktu, justru dia yang berharap Anda segera jujur,sebaliknya dia pun malu, sama seperti Anda. Nah, bingung plus bingung jadi tambah bingung. Sesuatu antara dua manusia atau lebih, memang harus diutarakan secara baik-baik, menghindari kesalahpahaman, lebih-lebih tragedi lain yang sangat memilukan. Maukah penantian Anda selama ini hanya terkubur rapat sia-sia di dasar hati? Sedang waktu terpingkal-pingkal meratapi nasib Anda yang mengenaskan,hanya karena dihasut  MALU?

                Bicaralah. Tak perlu modal banyak,asal ikhlas,semoga tidak ada kesalahpahaman. Kalimat yang spontan,justru hadir dari lubuk yang terpendam selama ini. Pelan-pelan saja. Jangan pernah berpikir,dia akan mengangguk atau menggelengkan kepala. Jawaban nomor kesekian.



Anda diam,Anda harus rela dia pergi dengan orang lain. Atau Anda bicara dan dia akan tersenyum jatuh ke pelukan Anda.
Cinta untuk cinta yang telah cukup untuk cinta. Cinta tak butuh apa-apa.

                Satu hal,mungkin paling berat sejauh ini. Bagaimana bila Anda mencintai orang yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain? Paksakan,telan buah simalakama yang lebih pahit.
                Anda tahu pasti ini kesalahan terbesar dalam hal mencintai, berharap dia akan segera menjdai milik Anda, yaa ini hak Sang Pecinta tentu saja. Tegakah seorang manusia menyakiti sesama manusia lain? Rumit. Sudah rumit makin runyam. Bersikaplah menjadi seorang kesatria. Sedikit mengikhlaskan dia bersama orang lain,satu-satunya hal terindah dalam hidup meski sakit sih (menurut saya, berulang kali saya dicekoki pil pahit yang selalu berujung mual :P). Pernah ada lah,orang yang mengirim SMS ke nomor saya, “Jodoh ga harus memiliki” kira-kira,..hmm..jodoh sudah digariskan oleh-Nya  --Awit kuwi wis kersane Kang Mbabar Kelir-- (jika Anda penikmat wayang pasti mngerti maksud saya barusan). Atau Anda menjelma menjadi Dasamuka yang tega menculik Sinta dari pelukan Ramawijaya,setelah perjuangan panjang melawan Anoman dan pasukan lain di Tambak,sudah lelah, tetap saja kesetiaan Sinta suci walau terbakar api saperti cerita Sinta Obong. Real.
                Saya manusia yang lahir karena cinta. Saya lebih suka mencintai dalam diam. Bukannya saya malu apalagi pengecut apalagi mual,bagi saya mencintai lebih tenteram dibanding dicintai. Bagi saya rahasia yang mencintai. Tapi,mm..pernah juga saya menerapkan “cinta tergesa-gesa”, hasilnya? Rahasia yang mencintai, he he. Saya begitu berani mungkin ya. Entah.
                Saya tebak, Anda sedang teringat seseorang. Silahkan pilih mana yang akan Anda tempuh. Siap mecintai,siap sakit hati. Yakinlah,dan ingat selalu masih banyak orang yang tulus menyayangi Anda (termasuk saya,haha).

                Pembaca yang budiman,baca lagi sugesti saya. Lain waktu,saya berusaha untuk membagi apapun yang saya punya hanya untuk Anda [:D

Bonusnya, kutipan dari Gigi-Sang Pemimpi :
Hargailah orang-orang yang menyayangimu,dan slalu ada,setia disisimu.

Saya menyayangi Anda [:D


















Terimakasih telah menghabiskan detik ke menit bersama saya,  wow terimakasih yang tak terhingga tentu [:*
Mohon komentar yang bermutu demi kebaikan kita semua.

 © Nur Fahmia
19 November 2011, 20:38 WIB.

0 komentar:

Poskan Komentar

Hello, thank your for the comment :)