Blog

Jumat, 25 November 2011

Dia Suster Adelia





                      Hiduplah seorang gadis bersama ibunya, tinggal di sebuah rumah petak kecil. Kiki, begitu ia dipanggil. Ayahnya pergi meninggalkan mereka, entah kemana, Suatu pagi, terdengar ibunya mengaduh kesakitan.

Kiki                 : “Bu, ada apa ?”
Ibu                   : “Tidak apa-apa, nak. Ibu merasa sedikit sakit pusing. Tolong, izinkan kepada Nyonya Lies, bahwa ibu sakit.”
Kiki                 : “Ibu istirahat saja. Kiki akan berangkat sekarang. Assalammualaikum.”
Ibu                   : “Terimakasih nak, waalaikumsalam.”

            Sesampainya Kiki di rumah Nyonya Lies.

Kiki                : “Assalammualikum, permisi.”
Nyonya Lies    : “Walaikumsalam masuk nak. Ada apa kok tiba-tiba ke sini ? dimana ibumu ?”
Kiki                 : “Saya cuma sebentar kok nyonya. Hari ini ibu tidak bisa masuk bekerja, karena ibu sakit.”
Nyonya Lies    : “Tidak apa-apa nak, saya juga sedang sakit, saya juga mau chek up ke dokter.”
Kiki                : “Kalau boleh tau, Nyonya sakit apa ?”
Nyonya Lies    : “Saya sakit gangguan ginjal nak. Sudah sana, kamu pulang temani ibumu.”
Kiki                : “Baik Nyonya. Assalammualakum.”
Nyonya Lies    : “Hati-hati di jalan ya nak. Waalaikumsalam.”

            Sesampainya di rumah.

Kiki                : “Assalammualaikum.”

            Setelah dia mendapati rumahnya, ternyata rumahnya kosong, salah seorang tetangganya datang. Tetangganya berkata bahwa ibunya sakit dan ibunya di bawa ke rumah sakit karena muntah darah.

Tetangga         : “Assalammualaikum ki.”

Kiki                : “Walaikumsalam, ada perlu apa, kok tiba-tiba ibu ke sini ?”
Tetangga         : “Ibu hanya ingin memberi tahu, ibumu sekarang berada di rumah sakit, tadi beliau           muntah darah.”
Kiki                : “Apa ??Ibu sekarang berada di rumah sakit ??”
ya Allah, ibu. Sekarang saya harus kesana, dimana dia bu, dimana ibu saya bu ?? saya        harus bertemu dia.”
Tetangga         : “Ibumu sekarang ada di ruang ICU.”
Kiki                : “Baiklah, terimakasih bu atas infonya.”
Tetangga         : “Iya nak, sama-sama.”


Sesampainya di Rumah Sakit.

Kiki     : “Permisi suster, saya mau bertanya. Dimanakah ruang ICU ??”
Suster  : “Ikuti lorong kanan samapai adik menemukan sebuah bangungan paling tua dan bertuliskan ICU.”
Kiki     : “Terimakasih suster.”

            Kiki pun berlari dengan tergesa-gesa,dia ingin segera menemukan ibunya. Akhirnya ia menemukan sebuah ruangan yang nampak seperti bangunan tua. Didampingi 2 pohon beringin besar yang kelihatan menakutkan. Perlahan Kiki mengintip sebuah jendela yang sudah setengah rapuh. Ia melihat beberapa kasur tua yang ditiduri pasien-pasien yang mengenaskan. Lalu, kasur tua yang berada di sudut kanan, ia ditemani infuse dan oksigenator. Ia bimbang. Tiba-tiba, seorang suster datang padanya.

Suster  : “Sedang apa kamu cantik? Kok duduk terdiam disini? Sendiri lagi, mana orang tuamu?”
Kiki     : “Ibuku sakit, beliau teronggok lemah tak berdaya. Aku sangat sayang kepadanya. Tapi aku tak mengerti, ibu sakit apa. Aku bingung, aku sendirian disini. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku, kini aku tak ditemani siapapun. Bagaimana aku bisa membiayai pengobatan ibuku?” (Kiki melelehkan air mata)
Suster  : “Jangan bersedih, Nak. Semua pasti ada jalan keluarnya. O iya, namaku suster Adelia. Siapa namamu?
Kiki     : “Namaku Kiki Amalia, suster bisa memanggilku Kiki”
Suster  : “Kiki, suster berjanji akan menjaga ibumu. Sekarang, pergilah ke ruang administrasi. Kamu anak baik, Nak. Suster yakin, kamu akan menemui jalan terang untuk menyelesaikan masalah ini”
Kiki     : “Baiklah, aku akan kesana.”

Sebelum beranjak, Kiki hendak mencium tangan suster Adelia, tanpa disangka suster berambut panjang dan berbaju putih tersebut, hilang entah kemana. Tapi ia tak takut, ia percaya Tuhan menyertainya kemanapun langkah berpijak. Kiki kemudian berlari.
Saat berlari, ia merasa memiliki kekuatan lain, entah..sesuatu yang berbeda. Karena terburu waktu, Kiki tak melihat ada lelaki yang sedang mengepel lantai di depannya. Kiki nyaris menabraknya.

Kiki     : “Maaf , saya tidak melihat Bapak.”
Bapak  : “Iya tidak apa-apa, Dik. Lain kali lihat ke depan.”
Kiki     : “Terimakasih, Pak”
Bapak  : “Dari tadi jika tidak salah, Bapak melihat Adik di dekat ruang ICU, ya?”
Kiki     : “Iya, Bapak benar. Ibu saya dirawat disana.”
Bapak  : “Sepertinya, tadi Adik juga bercengkrama?”
Kiki     : “Oh, tadi saya mengobrol singkat dengan suster Adelia. Dia berjanji akan menjaga Ibu saya.”
Bapak  : “Suster Adelia?? Dik, saya ceritakan sedikit. Beberapa tahun yang lalu, seorang suster yang bernama Adelia meninggal di rumah sakit ini dengan tragis. Ia bunuh diri, dengan cara menggantung ditemani seutas tali, di salah satu dahan pohon beringin itu, dekat ruang ICU. Penyebabnya belum diketahui. Banyak kabar, jika sosoknya sering tampak melewati lorong-lorong, koridor, bahkan menemui pasien-pasien.”
Kiki     : “Apa benar begitu? Dia baik dengan saya. Saya tak takut. Pak, saya harus ke ruang administrasi. Terimakasih ceritanya,Pak. Permisi..”
Bapak  : “Iya, Dik. Sama-sama. Berhati-hatilah..”

Segera Kiki sampai di ruang administrasi. Setelah bertanya, ternyata biaya yang harus Kiki bayar begitu besar. Kemudian, Kiki berjalan keluar dari rumah sakit. Ia bingung, bagaimana harus membayarnya.
Esoknya, ia ke ruang ICU lagi. Tanpa ditemani siapa-siapa. Ia mengintip ibunya dari jendela. Terlihat seorang dokter sedang memeriksa Ibunya. Ketika selesai memeriksa, ia berjalan keluar ruangan. Kiki segera mengerjarnya.
           
Kiki     : “Permisi,Dokter”
Dokter : “Ya, ada yang bisa saya bantu?”
Kiki     : “Baru saja dokter memeriksa Ibu saya, ya? Saya Kiki, anaknya. Maaf Dok, Ibu saya sakit apa?”
Dokter : “Dik Kiki, Ibu Anda terserang kanker otak. Harus segera di operasi dalam beberapa waktu dekat ini. Bagaimana?”
Kiki     : “Kanker otak? Ganas,Dok?”
Dokter : “Iya. Dana yang harus ditanggung cukup besar,Dik. Tapi, apakah Anda tidak ingin Ibu Anda sehat kembali?”
Kiki     : “Tentu, Dok. Saya usahakan.”
Dokter : “Kemungkinan, 5 hari lagi. Ibu Anda perlu banyak istirahat. Jangan di ganggu dulu. Berdoalah..maaf, saya harus pergi memeriksa pasien lain. Permisi”
Kiki     : “Mari, Dok..”

Kiki galau, ia berjalan gontai. Tanpa tujuan. Entahlah. Kiki bingung. Lalu ia pergi ke rumah Nyonya Lies. Sesampainya di rumah Nyonya Lies, ia menyampaikan maksud ingin meminjam uang untuk membayar biaya pengobatan ibunya. Kemudian, Nyonya Lies memberikan sejumlah uang kepada Kiki, tapi tidak meminta Kiki untuk mengembalikan uang di kemudian hari. Kiki pamit dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Saat di perjalanan, Kiki teringat kata-kata ibunya. Ibunya pernah berkata, jangan pernah meminta pertolongan kepada orang lain, jika kita bisa menyelesaikan masalah sendiri. Tapi, jika kebutuhan uang seperti ini, bagaimana ? Kiki tentu tidak akan bisa menyelesaikan sendiri, karena penghasilan tidak seberapa. Kiki bimbang. Kiki sudah berjanji bahwa ia akan menuruti permintaan ibunya itu ketika beberapa hari setelah ayahnya pergi. Ibunya ingin mereka bisa mandiri.

Karena bingung, tak terasa ia sampai di rumah sakit. Langsung saja ia ke ruang ICU tempat ibunya dirawat.
Malam datang, bulan purnama Nampak samar di sana, menggantung di awan. Ia bingung, benar-benar bingung. Ia ingin membiayai pengobatan ibunya dengan uang pinjaman dari Nyonya Lies, ia ingin ibunya sembuh, tapi di satu sisi, ia teringat kata-kata ibunya. Karena lelah,ia tertidur di sudut bangsal, sendirian.

Saat tertidur, setengah sadar, ia merasa pundaknya disentuh oleh tangan yang lembut. Ia menoleh ke belakang, ternyata suster Adelia. Kembali terngiang cerita bapak tua yang memberitahunya tentang kematian suster Adelia. Tapi Kiki tidak takut.

Suster  : “Kiki? Sendirian? Mau bertemu ibumu?”
Kiki     : “Mau, suster. Aku kangen sekaliii..dengan Ibu”
Suster  : “Ayo ikut suster!”
Kiki     : “Aku ngikut saja”
Kiki merasa dingin dan menghilang. Tiba-tiba sampailah ia di suatu tempat yang terang. Sepi, dingin. Ia melihat sebuah kamar. Sepertinya ibu..
Suster  : “Ibumu disana, sebelum waktu ajal berdenting! Kau akan kehilangan ibumu!     Berlarilah!”

Tanpa menjawab, sigap Kiki berlari. Ia sampai di kamar itu, terlihat ibunya dengan wajah putih bersih, sedang terlelap, damai. Tapi, ada dua makhluk yang ia rasa bernama malaikat. Salah satu malaikat itu hendak mengusap muka ibunya. Ia tahu nyawa ibunya akan dicabut.
Ia meledak.

Kiki                 : “JANGAN KAU AMBIL NYAWA IBUKU! AKU TAK MAU KEHILANGANNYA!”
Malaikat          : “Karena ini kesalahanmu! Mengapa kau mengingkari janjimu kepada ibumu!”
Kiki                 : “Maafkan aku, tapi aku belum menggunakan uang itu! Baiklah, apa yang harus aku lakukan agar ibuku tetap hidup?” (menangis)
Malaikat          : “Ya. Kau harus meminta maaf kepada ibumu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Kiki                 : “Aku sanggup. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang, aku ingin bersama ibuku. Aku ingin ia bangun!”

Seketika itu pula, ruangan yang putih itu berubah menjadi bangsal dimana Kiki tidur. Ia beranjak. Seperti mimpi, tapi ia yakin bila itu bukan mimpi biasa. Lalu, ia menuju ruang ICU. Ia bertemu dengan dokter yang kebetulan menutup pintu akan keluar ICU.

Kiki     : “Bagaimana dokter? Kapan operasi akan diadakan?”
Dokter : “Saya baru saja memeriksa ibu Anda. Ternyata, ajaib. Ini merupakan mukjizat. Ibu Anda seketika berangsur normal. Kanker otak yang awalnya kami duga, ternyata bukan.. aneh kan? Ya sudah, Anda bisa bertemu ibu Anda sekarang. Silahkan masuk..”
Kiki     : “Terimakasih atas bantuannya, Dok. Saya tidak sabar bertemu ibu saya”
Ibunya memang terlihat sehat. Meski tatapannya sayu. Ia menghambur, memeluk ibunya.
Kiki     : “Ibu..kata dokter ibu sudah sehat. Kiki kangen Ibu.”
Ibu       : “Iya, Nak. Semalam ibu siuman, ada yang aneh tadi malam. Seperti kekuatan dalam tubuh ibu.”
Kiki     : “Bu, Kiki minta maaf dan berjanji tidak akan mengingkari janji Kiki lagi.”
Ibu       : “Janji yang mana?”
Kiki     : “Semua janji yang pernah Kiki ucapkan. Kiki sayang Ibu.”

Kiki memeluk Ibunya. Nyonya Lies datang menjenguk, Ia berkata telah membayar semua pengobatan ibu Kiki. Tapi Kiki merasa tidak bersalah. Karena Nyonya Lies memang ikhlas. Kini,Kiki hidup bahagia kembali bersama ibunya, berdua.


Naskah ini dibuat bersama dengan Bekti, Indi dan Yoan saat saya duduk di kelas 8b.
                                                   

0 komentar:

Poskan Komentar

Hello, thank your for the comment :)