Blog

Rabu, 14 November 2012

Lidi Tua



Kabut pagi yang kelabu
Masih menyelimuti aspal beku
Di tepi batang raya
Samar terlihat tua bergerak

Detik berjalan
Mengajak sinar merangkak
‘tuk terangi mayapada
Kabut mulai sirna
Namun api jwa takkan sirna

Dikau melangkah tak tentu arah
Berbekal setangkai lidi tua
Mengerang berpagut dengan batuan
Mennjelajah trotoar kusam
Singkirkan debu dan sampah
Daun kering rontokkan diri
Pun kau singkirkan jua

Keringat mengucur badan
Sambil berjalan
Kau usap sejenak
Kulit gelap
Terpanggang kobaran cahaya
Menghujam pori berbalut ari

Kuncup kembang hati bermekahan
Lantaran jalanan segar dipandang
Karenamu..
Bagai ujung tombak tusuk daging segar

Meski belulang lelah
Tak dirasakannya
Lidi tua terus menebah
Hingga bersih mengerat kalbu



Usia senja merangkul sukma
Takkan berhenti tebas molekul pengap
Sebelum benar terpanggil ajal

Sekalipun jika rohani pulang kepada-Nya
Nisanmu bertuan
Jasa hidup tersemat di dada

Dia pernah berjanji
Sisihkan pintu surga-Nya
Untuk hati mulia ikhlas
Seperti dirimu




Puisi ini kutulis pada tahun 2010, saat aku masih duduk di kelas 1 SMP di SMPN 4 Magelang. Puisi ini termasuk puisi balada.

[:DD

0 komentar:

Posting Komentar

Hello, thank your for the comment :)