Blog

Rabu, 14 November 2012

Ketika Malam Datang


Malam datang, baru saja
Bulan bundar merangkak perlahan
Angin menggigit, sengaja terpingkal
Menatapku
Yang sedang gusar


Aku rindu kamu
Rindu menyulap sendu
Jantung bergetar, kelu


Aku rindu
Kamu tak hadir, malam ini
Kamu bosan kamu lupa kamu angkuh kamu tinggalkan
           aku begitu saja
Acuh, biarkan aku mematung
Sementara waktu terkikik mendengar aku terpekik dicekik rindu
Apa-kau yang lagi disitu-dengar juga?


Di pertengahan malam ini
Awan mendengkur sisakan mendung
Disana bulan menggantung
Disini aku terkurung
Terpasung rindu yang semakin menggerung
Aku rindu kamu


Puisi ini, kubuat dengan emosional. Aku sedang rindu dengan lelaki, sangat rindu
Aku bacakan puisi di depan kelas ketika pelajaran bahasa Indonesia. Chika dan beberapa kawanku berhasil melelehkan air mata. Rasa hati kelu, cekit-cekit-cekit. Rindu orang yang bisa membuatmu bahagia, itu menyedihkan banget, Bung! 
Nggak sengaja, kukirim naskah kepada lelaki hebat. Ia membuatkan sketsa yang dipadukan dengan puisi ini, gambar Danbo kotak yang lagi galau. Aku malah terpingkal karenanya!




[:DD makasih, Om!

Lidi Tua



Kabut pagi yang kelabu
Masih menyelimuti aspal beku
Di tepi batang raya
Samar terlihat tua bergerak

Detik berjalan
Mengajak sinar merangkak
‘tuk terangi mayapada
Kabut mulai sirna
Namun api jwa takkan sirna

Dikau melangkah tak tentu arah
Berbekal setangkai lidi tua
Mengerang berpagut dengan batuan
Mennjelajah trotoar kusam
Singkirkan debu dan sampah
Daun kering rontokkan diri
Pun kau singkirkan jua

Keringat mengucur badan
Sambil berjalan
Kau usap sejenak
Kulit gelap
Terpanggang kobaran cahaya
Menghujam pori berbalut ari

Kuncup kembang hati bermekahan
Lantaran jalanan segar dipandang
Karenamu..
Bagai ujung tombak tusuk daging segar

Meski belulang lelah
Tak dirasakannya
Lidi tua terus menebah
Hingga bersih mengerat kalbu



Usia senja merangkul sukma
Takkan berhenti tebas molekul pengap
Sebelum benar terpanggil ajal

Sekalipun jika rohani pulang kepada-Nya
Nisanmu bertuan
Jasa hidup tersemat di dada

Dia pernah berjanji
Sisihkan pintu surga-Nya
Untuk hati mulia ikhlas
Seperti dirimu




Puisi ini kutulis pada tahun 2010, saat aku masih duduk di kelas 1 SMP di SMPN 4 Magelang. Puisi ini termasuk puisi balada.

[:DD

Jumat, 09 November 2012

Sandi Ambalan


Sandi Ambalan


Kehormatan itu suci.
Janganlah kurang amalmu dalam kesukaran, tenanglah dalam bahaya.

Katakanlah selalu dalam sebenarnya.
Jangan sekali – kali setengah benar atau yang berarti dua.

Sabda pandita ratu.
Manusia itu manusia, kaya atau melarat adalah keadaan lahir, kita mengukur orang dengan ukuran batin.
Siapa saja, meskipun bagaimana, adalah kawan kita.
Karenannya, janganlah melakukan sesuatu yang dapat melukai hati atau menghinakan orang lain.
Lebih baik mati terhormat, daripada hidup dengan nista.