Blog

Jumat, 03 Mei 2013

Sinopsis Tanaman Hidroponik



TANAMAN HIDROPONIK
Karya Ir. Siswadi, MP


            Metode bercocok tanam tanpa tanah, disebut hidroponik. Media yang digunakan sebagai pengganti tanah, yaitu air, kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang, potongan kayu dan busa.
            Elemen dasar yang dibutuhkan tanaman adalah cadangan makanan dan air yang terkandung dalam tanah. Jadi tanaman tanpa tanah dapat tumbuh asalkan air dan garam zat makanan tercukupi. Pemeliharaan rutin maksimal dua puluh menit sehari. Metode hidroponik mencangkup tanaman obat, buah, sayur, dan rempah-rempah.
            Hasil yang baik dan berlimpah merupakan keuntungan dari hidroponik sendiri. Prinsip dasar hidroponik terbagi dua, yakni hidroponik subsrat dan NFT (Nutrient Film Technique). Tanaman hidronik dapat melengkapi kebutuhan yang bisa diatur  jika diletakkan di dalam rumah kaca (greenhouse).
            Hidroponik substrat menggunakan media padat selain tanah yang menyerap nutrisi, air, serta oksigen dan mendukung akar tanaman. Contohnya seperti batu apung, pasir serbuk gergaji, dan gambut. Substrat lebih baik terbuat dari bahan yang mudah memadat sehingga aerasi dapat berjalan lancar. Substrat bertepi tajam baiknya maksimal memiliki tinggi 5 cm dari dasar pot, kemudian atasnya diberi media lain yang lebih halus. Substrat yang permukaannya kasar dan berbentuk teratur perlu disiram lebih teratur.
Namun, jangan memanfaatkan media yang berasal dari laut bisa mengandung garam dapur seperti serbuk gergaji, dan batu apung mengandung CaCo3 yang bisa mengikat besi (Fe).
Setiap mengganti tanaman baru, harus dilakukan sterilisasi substrat dengan menggunakan batu apung pemutih biasa (kalsium atau natrium hipoklorit), atau asam hidroklorida. Caranya, substrat direndam dalam klorin dengan konsentrasi 10.000 ppm dalam tangki selama 1,5 jam lalu cuci dengan air tawar.
Larutan nutrisi diberikan dengan cara disiram atau dialirkan melalui irigasi. Untuk mengetahui kelembapan, digunakan higrometer yang diletakkan di substrat. Ruang antar partikel harus diisi uap air.
Nutrient Film Technique yaitu budi daya dengan meletakkan akar tanaman pada lapisan air yang dangkal. Disebut nutrient film technique karena selapis larutan nutrisi terdapat di sekeliling perakaran.System NFT dibuat tinggi larutan maksimal 3 mm, sehingga nutrisi dan oksigen terpenuhi.
Keseragaman tempat mengalirnya larutan nutrisi dan kecepatan cukup untuk pengaliran tergantung kemiringan talang merupakan syarat-syarat membuat selapis nutrisi.
System yang mirip dengan NFT adalah aeroponik, yakni bercocok tanam di udara dan pemberian nutrisi dengan cara disemprotkan. Diperlukan pompa bertekanan tinggi agar butir air yang dihasilkan menjadi halus.
Media tanam hidroponik terdiri dari dua, yaitu media anorganik dan organik. Media anorganik sebagian besar komponennya berasal dari benda mati, yang memiliki pori-pori makro dan mikro hampir seimbang, sehingga sirkulasi udara cukup baik. Antara lain seperti pasir, kerikil alam dan sintetik, batu kali dan apung, pecahan batu atau genting, perlit, zeolit, spon serta rockwoll.
Media organik sebagian besar komponennya terdiri atas organisme hidup. Sirkulasi udara media organik serta daya serap airnya juga baik dan cukup tinggi. Media ini akan mengalami pelapukan, sebelum itu terjadi, tanaman perlu ditambah unsure hara sebagai nutrisi untuk pertumbuhan. Sebagian contoh yang berbahan organik yakni gambut, jiffy, potongan kayu, serbuk kayu gergaji, kertas, arang kayu, sabut kelapa, batang pakis, moss, sekam padi, dan ijuk. Media organik butuh alat pendukung sebagai penopang tubuh karena kurang kuat menahan tanaman besar.
Kebutuhan nutrisi bagi budi daya hidroponik diupayakan tersedia dalam jumlah tepat dan mudah diserap oleh tanaman dalam bentuk larutan. Bahan kimia atau garam pupuk harus diukur dengan saksama. Jika berbentuk gumpalan, maka dihancurkan menjadi serbuk terlebih dahulu. Hasil campuran selanjutnya dismpan kering dan ditutup rapat sebelum dipakai lagi.
Formula garam mineral yang banyak dikenal untuk keperluan berhidroponik. antara lain seperti Formula Netherland Standard yang sangat baik untuk menanam tanaman sayuran dan buah-buahan semusim.
Formula Kuwait ada dua jenis, berikut Formula Kuwait I dan Formula Kuwait II, larutan ini sangat baik untuk tanaman di daerah iklim kering dan panas.
Formula Benggala, India dapat dipakai dalam keadaan kering dengan aplikasi 60 gram per meter persegi lahan, dengan cara melarutkan 2-3 gram formula ke dalam satu liter air.
Formula lainnya adalah Agricultura Extension Services Formula, Florida serta Formula Unsur Mikro. Selain itu, larutan hara dapat dibuat sendiri dengan formulasi Soedarsono IPB, yaitu melarutkan kedua unsur makro dan mikro. Atau juga bisa dibuat dengan mencampurkan satu sendok makan urea, TSP, KCl, dan satu sendok teh Gandasil B lalu dilarutkan dalam sepuluh liter air dan diaduk merata. Ramuan ini yang terpenting harus  bisa mencukupi semua unsure yang dibuthkan tanaman.
Tanaman hidroponik biasanya dibiarkan hidup dalam sebuah tempat tersendiri yang disebut greenhouse. Artinya rumah kaca. Saat ini, greenhouse banyak  yang berdinding plastik karena mudah didapat dan harga terjangkau. Kerangka bangunan ini sebagai penyangga menggunakan bamboo belah atau pipa aluminium yang tidak mudah roboh. Pipa dilengkungkan dan kedua ujungnya ditancapkan dalam tanah, sehingga membentuk setengah lingkaran. Jarak antar pipa  melengkung sebaiknya 75 cm. atap yang dipakai berupa plastik PVC (poliviny chloride). Pintu masuk pekerja dibuat kosen dari kayu dan berdaun pintu dari plastik.
Bahan untuk membuat greenhouse  berbahan plastik adalah, kaso dengan dua ukuran berbeda, reng, penjepit plastik, plastik UV bening, net lembaran, paku, minyak kayu, semen, pasir, dan batu bata.
Sarana yang dibuthkan untuk memulai usaha hidroponik, seperti rumah kaca, media tanam, alat pembantu, pupuk, air, dan bibit tanaman.
Sebelum ditanam, benih disemai terlebih dahulu agar bibit mudah diseleksi. Media semai bisa berupa pasir kalli yang disterilkan, dan jiffy. Bibit besar yang sudah disemai bisa langsung dipindahkan ke polybag. Sedangkan bibit kecil disemai di piring semai dulu, kedua di pot pembibitan, lalu ke pot hidroponik yang tetap. Kemudian pot yang sudah terisi diletakkan di atas bendengan dalam barisan selang-seling.
Selama proses pertumbuhan, diperlukan penyiraman dan perawatan yang teratur dan baik. Penyiraman tidak boleh terlambat. Penyiraman dibantu dengan handsprayer, gembor atau gayung.
Bibit yang sudah berada di polybag selama 7 hari,dibuatkan tali rami atau rafia agar tumbuh tegak. Setelah itu dilakukan pemilihan batang reproduksi. Lalu sulur dan daun semu yang mengganggu tanaman sebaiknya dibuang karena tidak bermanfaat. Untuk penyerbukan, tanaman perlu angin secara leluasa agar tanaman dapat menyerbuk sendiri. Pemeliharaan buah sampai panen harus tekun dan teliti, karena serangan hama dan penyakit mudah terjadi. Pencegahan datangnya lalat buah dilakukan dengan penyemprotan insektisida. Pemetikan buah menggunakan gunting dan jangan sampai melukai bagian buah. Bila buah terakhir dipetik, tanaman hidroponik bisa dibongkar. Media bisa digunakan kembali jika sudah dibersihkan dan dikeringkan. Bahan dan sarana lain bisa dimanfaatkan lagi bila bagus dan  memadai.


Sinopsis ini saya tulis ketika mengikuti lomba menulis sinopsis tingkat SMP Kota Magelang 2011.
Semoga bermanfaat [:D

Kesempurnaan hanya milik Allah Subahanallahu Wata'ala.









  





1 komentar:

Hello, thank your for the comment :)