Blog

Minggu, 07 Juli 2013

Suara Rakyat yang Kepanasan





Hari Jumat lalu, saya dan Ibu janjian akan pergi ke pasar bersama. Karena saya ada acara di sekolah, maka saya menunggu Ibu di daerah terminal lama Kebonpolo. Pukul 11.30 WIB, saya berangkat dari sekolah ke terminal lama dengan angkutan kota. Sesampainya di sana, saya biasa duduk di tepi trotoar, tepatnya, ada bekas pot besar dari semen, dimana pohonnya sudah mati, mungkin tujuannya untuk peneduh tapi toh tidak berguna. Hawa panas sekali, bisa dibayangkan pukul sekian duduk tanpa atap di tepi jalan.



Sambil saya makan cemilan yang saya bawa dari sekolah, saya menunggu Ibu datang. Terminal lama Kebonpolo sekarang dihuni oleh beberapa usaha travel, seperti travel Rahayu, pedagang bakso dan gudeg. Sekitar jarak 5 meter, ada bapak-bapak dan seorang ibu yang sedang mengobrol. Wanita itu berjualan minuman dan makanan kecil, dan ada tempat duduk yang teduh di situ, karena dekat dengan kantor travel Rahayu.

Sekitar 15 menit saya menunggu kepanasan, seorang bapak memanggil saya,
“Mbak, sini, duduk sini saja, kepanasan lho di situ,” beliau memberi tanda kepada saya untuk mendekat ke arahnya. Ibu pedagang minuman juga memanggil saya. Tapi saya agak malu.
“Ya, nanti saja, Pak. Saya menunggu jemputan Ibu,” ujar saya malu, sungguh malu sekali duduk kepanasan hingga menarik perhatian orang.

Kemudian saya teruskan lagi mengawasi sekeliling. Jika dilihat-lihat, kawasan ini tidak terlalu ramai, sehingga saya tidak bisa membayangkan berapa keuntungan yang diraup per harinya oleh Ibu pedagang minuman tersebut. Tapi kawasan ini juga banyak sekali bangunan yang menjual tiket perjalanan seperti travel dan pesawat, mungkin ramai ketika sore saat jadwal keberangkatan.

10 menit kemudian, Bapak yang tadi, memanggil saya lagi.
“Mbak, nggak papa, duduk sini saja, di situ panas, to, Mbak. Ini tak ambilin kursi, njenengan duduk sambil liat jalan kalau dijemput, sini, Mbak. Saya sama bapak-bapak di sini orang baik-baik, wong ini juga ada ibu-ibu juga to,” Bapak itu seraya mengambilkan kursi dari salah satu tempat penjualan tiket travel. Saya malu, tapi akhirnya saya berjalan dan duduk di situ. Syukurlah, memang teduh, jadi saya tidak kepanasan lagii..

Selama saya duduk di tempat teduh itu, saya menangkap suara dari salah satu bapak yang sedang duduk di becak, yang kemudian saya tahu bahwa beliau adalah supir travel Rahayu,
“Saiki arep njupuk BLT wae kudu nyarter angkot,”
artinya: sekarang akan mengambil BLT saja harus menyarter angkot.
Wew, lalu saya dengar suara-suara yang menyadarkan saya, ya tentu saja, saya belajar juga bagaiman kerasnya hidup ini…saya cuma diam saja tapi mendengarkan.

10 menit kemudian, akhirnya Ibu datang menjemput saya, saya pamit ke bapak-bapak dan ibu pedagang minuman dan mengatakan terima kasih. Saya berdoa semoga orang-orang yang membantu saya kemarin, mendapatkan balasan dari Allah.

Bantuan sekecil apapun jika dilakukan dengan ikhlas, saya percaya akan mendatangkan manfaat.
Semoga kita istiqamah selalu, amin.

Mia [:D

2 komentar:

  1. hemm.. iya, jangan ragu buat nolong orang karna pasti ada balasannya InsyaAllah :D

    BalasHapus
  2. Aaamiin..selalu ikhlas :))

    BalasHapus

Hello, thank your for the comment :)