Blog

Selasa, 01 April 2014

Baca Cerdaskan Bangsa




Di era modern, informasi terkini menjadi menu primer sehari-hari. Untuk mendapatkan informasi, dua cara paling umum yaitu dengan mendengar dan membaca. Media informasi sangat diperlukan untuk mengikuti perkembangan informasi terhangat. Mendengarkan informasi bisa didapatkan dari media radio dan televisi. Namun, banyak informasi yang didapat dengan cara membaca, baik sumber di internet maupun buku. Jadi, sangat penting mengapa masyarakat harus bisa membaca atau melek huruf.
            Suatu bangsa yang maju, dimulai dari rakyat yang cerdas. Dimulai dengan membaca. Membaca mampu menyihir orang dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi cerdas. Simak “Iqra’, bismi rabbikal ladzi khalaq.”, yang memiliki makna  perintah “Bacalah dengan nama Tuhanmu.”. Sebuah proses belajar yang tidak terlepaskan atas nama Tuhan.

Peningkatan budaya dan minat baca masyarakat perlu campur tangan pemerintah. Pemerintah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan undang-undang dasar 1945, alinea empat, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan budaya dan minat baca masyarakat.
Buku lautan ilmu. Banyak kejutan ilmu pengetahuan yang ditemukan dalam sebuah buku, hal-hal yang belum diketahui, bahkan belum pernah dibayangkan. 
Membaca membuka cakrawala. Membaca dapat memberikan pencerahan baru, mengembangkan pemikiran, dan mencerdaskan cara berpikir. Menjadikan pribadi yang mampu memecahkan masalah dengan cara cerdas dan rasional. Ilmu membuat pikiran dan jiwa rendah hati saling terkait, sehingga pribadi jadi lebih dewasa.
 Dengan membaca, ilmu pengetahuan yang bermanfaat diserap, diketahui, dan dipahami kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di bidang agama, pendidikan, ekonomi, pemerintahan, bahkan sosial. Masyarakat menjadi lebih berkualitas dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Pepatah Arab mengatakan, membaca adalah kunci kesuksesan. Buku salah satu faktor yang sangat penting  dalam meraih keberhasilan.
All leaders are readers-Jim Rohn. Artinya, semua pemimpin ialah pembaca. Tokoh-tokoh dunia adalah kutu buku tingkat dewa. Albert Einstein sering membolos sekolah dan menghabiskan waktu untuk membaca lebih banyak. Bill Gates melahap habis buku komputer di perpustakaan sekolah hanya beberapa minggu. Belum lagi Adolf Hitler, Isaac Newton, Edison, Napoleon Bonaparte, dan Hans Christian Andersen yang kesemuanya para penikmat buku.
Tokoh-tokoh tersebut beberapa gelintir dari orang-orang hebat dan dahsyat lainnya di dunia. Fakta inilah yang memperkuat keyakinan kita bahwa minat untuk membaca buku merupakan salah satu tolok ukur seseorang untuk meraih kesuksesan.
Minat baca usia dini seharusnya digalakkan. Yakni memupuk kecintaan anak pada buku, misalnya mengenalkan buku cerita menarik kepada anak usia dini dan mengajari si kecil membaca meskipun terbata-bata.
Belum semua orang tua mampu membelikan buku-buku pada anak. Mengajak anak ke perpustakaan umum kota, menjadi salah satu cara efektif untuk mengenalkan anak pada buku.
Perpustakaan sekolah menjadi pusat referensi pelajar di sekolah. Pelajar yang belum mampu membeli buku, bisa membaca dan meminjam buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku ensiklopedia dan yang menunjang pelajaran, harus tersedia. Namun, nampaknya terjadi penurunan minat baca pelajar serta berkunjung ke perpustakaan sekolah. Keberadaan internet telah meninabobokan pelajar. Sebab, media visual menarik dan ragamnya permainan sudah terlirik oleh pelajar. Tidak sedikit pelajar yang menyalahgunakan internet, seperti menghabiskan waktu untuk bermain game dibanding duduk membaca buku.
Meningkatkan minat baca di kalangan pelajar, bisa dilaksanakan di tiap sekolah. Sebagai contoh, adanya hadiah atau penghargaan untuk siswa paling yang rajin berkunjung dan meminjam buku di perpustakaan sekolah tiap tahun, kewajiban membaca minimal satu buku selama minggu, dan sebagainya. Kreatifitas sekolah menentukan sejauh mana budaya dan minat baca siswa di sekolah tersebut.
Tersedianya perpustakaan umum maupun sekolah, menjadi kebutuhan bagi masyarakat umum khususnya pelajar. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan yang telah ditetapkan, peraturan tentang perpustakaan sekolah secara keseluruhan belum tercantum dan direalisasikan sampai sekarang.
Layanan bis perpustakaan umum keliling mulai bergerak dari satu sudut kota ke sudut yang lain. Layanan ini menguntungkan dan menyadarkan masyarakat akan sarana dan prasarana yang difasilitasi pemerintah agar minat baca masyarakat meningkat. Ironisnya, pembangunan perpustakaan umum dan layanan perpustakaan keliling belum menjamah warga yang tinggal di desa terpencil atau di daerah terisolasi. Keadaan ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah sebagaimana tertulis bahwa pemerintah menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air.
Harapannya, penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat yang dijamin pemerintah, bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Sehingga rakyat yang kaya akan pengetahuan sebagai bukti nyata negara dalam mencerdaskan bangsa. Ayo membaca!

0 komentar:

Poskan Komentar

Hello, thank your for the comment :)