Blog

Selasa, 01 April 2014

Pemimpin di Mata Anak SMA

Manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, khalifah di muka bumi ini. Saya manusia, juga hidup bermasyarakat dan diwajibkan untuk membangun hablumminnanas (hubungan dengan manusia secara horizontal) yang baik. Apalagi remaja seusia saya yang penasaran sama organisasi, pasti kepingin ngerti gimana cara kerja suatu perkumpulan yang terdiri dari banyak orang (tim) dan memiliki tujuan yang sama. Pemerintahan dalam organisasi atau perkumpulan ini butuh pemimpin dan anggota. 


Pemimpin adalah kepala, pusat pengendali organ yaitu pengomando anggota. Pemimpin ialah ulul amri, panutan kami, panutan anggota, suri tauladan, tempat ke mana anggota bertanya 5W+1H (apa, di mana, siapa, mengapa, kapan, dan bagaimana). Pemimpin yakni sosok yang sangat sensitif. Ibarat air, jika air tersebut terkena setitik minyak wangi, maka ia akan harum semerbak ke seluruh penjuru. Sebaliknya, jika jatuh setitik nila, rusak air sekolam. 


Suatu organisasi, sebut saja ekstrakurikuler di SMA saya, pemimpin memiliki tugas penting. Maka tak heran jika enam bulan lalu senior saya pernah berujar, “Jangan gegabah untuk memilih ketua ekskul, Dik.” Pemilihan ketua yang bakal memimpin, penggerak anggota selama beberapa waktu ke depan (untuk ekskul masa jabatan satu tahun, untuk yang lebih luas, kades, camat, walikota, gubernur, presiden?). Saya pikir (ketika saya masih bisa berpikir), memang pemimpin seperti pengendali tubuh, selain semuanya adalah kehendak Dzat Yang Maha Menciptakan.

Tanggung jawab. Ya, tgjwb-te ge je we be. Satu hal ini yang ada di pundak pemimpin dan anggota. Pemimpin bertanggungjawab atas apa yang diputuskannya, anggota bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya. Sekilas jika teman-teman saya yang ambisius untuk duduk menjadi pejabat penting di organisasi maupun even (ketua panitia, misalnya), biasanya berpikir, “Wah enak dong jadi ketua cuma bisa memerintah, nyuruh anggota untuk kerja ini-itu.” Hei. Wake up. Bukankah semua ini dipertanggungjawabkan? :D

Hati-hati untuk menjadi ketua. Semua pertanyaa yang dilontarkan oleh orang-orang, jangan sampai dua kata ini terluncur dari seorang pemimpin, yaitu “nggak tau”. Saat saya training esktrakurikuler jurnalistik di sekolah, senior saya berpesan, “Kerjaan ketua itu bagi tugas dan kontrol.” Yap, saya yang didapuk menjadi penanggungjawab sebuah even lomba bahasa, saya benar-benar merasakan dua kunci ini. 

1. Bagi tugas, memberi tugas kepada sie terkait. Jangan sampai semuanya dikerjakan oleh ketua, selagi sie atau pihak terkait masih bisa. Kecuali, jika yang bersangkutan berhalangan mendadak dan deadline sudah mepet, berangkatlah ketua. Karena menurut penglihatan saya, sebenarnya anggota yang benar-benar loyal dengan organisasi, akan senang jika mendapat tugas dari ketua untuk melakukan sesuatu. Dalam artian, orang yang loyal BUKAN tipe penjilat. Karena ketua akan bisa menilai sendiri cara kinerja anggotanya-ini bagi ketua atau pemimpin yang peka, pemimpin yang masih bisa berpikir bahwa apapun rencana yang sudah dibuat, pasti ada rintangannya dan halangan para anggota pun, ada. Pemimpin yang MAU berpikir bahwa kerja anggota BUKAN yang terlihat di depannya, di matanya, tapi anggota yang bertanggungjawab dan membantu tugas dalam rangka menyukseskan tujuan yang diinginkan pemimpin. Pemimpin yang MAU melihat kerja keras proses anggota, bukan hanya hasil yang rapi di meja. 

2. Kontrol. Jujur, kontrol merupakan hal yang pernah saya lalaikan. Karena saya juga masih belajar untuk mengoordinir anggota, saya lupa untuk mengontrol. Teman saya berpesan kepada saya, “Untuk jadi ketua, pokoknya kamu harus tanya, pokoknya tanya apa aja, gimana sama sie terkait, dari kendala sampai hal-hal yang belum selesai, selalu diawasi dan ditanya, pokoknya, Mi.” Mengontrol anggota setiap waktu. Bagi saya, minimal SMS per hari untuk tanya kepada teman-teman saya per sie, jika dalam sehari kami tidak bertemu karena berjauhan kelas. Ya..nggak perlu janjian untuk SMS, “Besok saya periksa hasil kerjamu, ya?” Tiap sie saya ingin semuanya jujur. Jika ada kendala sekecil apapun, dikomunikasikan dengan ketua. Hindari kendala terpampang di status Facebook atau Twitter, #nyesek apalagi ABG masih labil. :v
Seorang teman pula memberikan pendapatnya kepada saya tentang pemimpin, ia berkata, “Pemimpin kalo udah amanah, insyaallah berkah, Mi.” nyesssss

Nah, problemnya, ketika saya menjadi anggota di organisasi lain. Saya pernah mengikuti pemilihan ketua ekstrakurikuler keagamaan di sekolah, setelah diwawancara umum di forum, terpilihlah ketua ekskul yang baru. Ada sesuatu yang belum pernah saya lihat selama ini, ketua baru saya itu-kakak kelas saya-ia menangis. Ketua baru saya, menangis. Terharu. Subhanallah. Baru kali itu saya melihat pemimpin saya menangis karena dipilih oleh forum sebagai ketua untuk satu tahun mendatang. Dan beliau, rajin SMS dakwah kepada anggota ekskul yang saat itu jumlahnya hampir 100 orang. Tujuan dari SMS beliau selain berdakwah, tentu beliau ingin dekat dengan anggotanya. Beliau SMS kira-kira minimal dua minggu sekali serta berjalan sekitar satu tahun. Subhanallah…

Lain lagi, saya menjadi anggota di suatu organisasi luar sekolah. Beliau belum bisa melihat kinerja anggota yang di balik layar. Beliau menilai begini: apa yang ada di mata, dialah yang bekerja. Begitulah rumus dalam hidupnya selama beberapa tahun ini saya menjadi anggotanya. Bahkan, anggota yang bekerja di balik layar-seperti jarkom SMS ke seluruh anggota dan datang ke forum ketika beliau tidak datang-tidak dianggap. Ya, tidak dianggap ADA. Nggak dihargain. Mungkin masih belajar bagaimana untuk menjadi ketua. Tapi pernyataan bahwa, “Gimana yang kerja cuma ini, ini, ini,” menyisihkan kaum minor yang memiliki alasan mengapa ia “tidak” bekerja. Padahal, memiliki niat untuk bekerja, bukankah semua berawal dari niat? Niat ada tapi rintangan juga ada, misalnya kendala transportasi dan ridha orang tua yang tidak mengizinkan untuk berangkat ke forum, hujan, dan lain sebagainya. SIAPA yang TAHU? Dan yang tidak termasuk dalam “ini, ini, ini,” siapa tahu, hatinya terluka? Luka bisa sembuh, tapi bekasnya, tetap ada. *peace

Pemimpin-amanah, siddiq, tabligh, dan fathonah. Artinya, dapat dipercaya, jujur, menyampaikan dan cerdas. Empat sifat sempurna ini dimiliki oleh suri tauladan kita, Rasul Muhammad Sallalahu’alaihiwasalam.

Pembaca yang budiman (kakak, om, tante), dan dari sekian ocehan saya tentang pemimpin ini, saya sadar saya mesti banyak berbenah. Saya semakin bingung memilih caleg 9 April 2014 yang bertebaran di tiang listrik, pohon, angkot, dan tembok yang bakal menjadi pemimpin saya...semoga lebih baiiiiiik untuk merah-putih ini! AAMIIN..

0 komentar:

Posting Komentar

Hello, thank your for the comment :)