Blog

Kamis, 15 Mei 2014

Perbedaan Novel dan Hikayat (Novel VS Hikayat)






 I. Sinopsis Novel “Sunset Bersama Rosie”
Novel karya Tere Liye ini mengisahkan tentang seorang Tegar yang terjebak dalam situasi dan pilihan yang sangat sulit. Situasi yang dia hadapi mengharuskan dia memilih antara masa lalu atau masa depan. Kepada siapa dia akan melabuhkan cintanya. Apakah Rosie, sahabat Tegar dari kecil yang lebih memilih Nathan sebagai pasangan hidupnya atau Sekar, seorang gadis yang sangat mencintai Tegar dan sabar menunggunya.
Patah hati, hancurlah hati Tegar ketika dia tahu bahwa Rosie menerima cinta Nathan yang baru dua bulan mengenal Rosie tepat di saat mereka di puncak Gunung Rinjani. Tegarlah yang mengenalkan Nathan pada Rosie. Nathan adalah sahabat terbaik Tegar sejak SD. Semenjak kejadian di Gunung Rinjani itu, Tegar tidak pernah lagi muncul di hadapan mereka berdua. Dia menghilang bak ditelan bumi. Tak ada kabar tentang keberadaan Tegar. Hingga akhirnya selepas Rosie dan Nathan wisuda, mereka menikah.
Tegar mulai bisa berdamai dengan hatinya dan seketika rasa sakit yang dulu dia rasakan hilang disaat dia melihat dua putri Rosie, Anggrek dan Sakura datang ke apartemen Tegar dan memanggilnya Om. Tegar juga telah memutuskan untuk menerima Sekar dalam hidupnya dan berencana untuk bertunangan.
Tapi itu semua hancur berantakan hanya dalam hitungan detik saja. Kejadian bom di Jimbaran yang telah merenggut nyawa Nathan adalah pangkal dari masalah yang harus dihadapi Tegar. Akibat kejadian itu, Tegar akhirnya membatalkan pertunangannya dengan Sekar dan terbang ke Jimbaran untuk memastikan keadaan keluarga Rosie.
Rosie depresi dan harus dirawat di shelter dan meninggalkan keempat anaknya. Anggrek, Sakura, Jasmine, dan juga Lili yang masih berumur satu tahun. Tegar yang hanya satu-satunya kerabat Rosie selain Oma memutuskan untuk menjaga dan merawat keempat kuntum Rosie dan Nathan dan meninggalkan semua aktivitas juga pekerjaannya di Jakarta dan pindah ke Gili Trawangan, tempat dimana Rosie dan Tegar tinggal.
Dua tahun Rosie dirawat di shelter, dan selama itu pula Tegar tidak pernah menghubungi Sekar. Hingga suatu saat, ketika Rosie sembuh dan berkumpul bersama anak-anaknya, Tegar mendapat kabar dari Linda, mantan sekretarisnya di Jakarta yang mengabarkan bahwa Sekar akan bertunangan dengan laki-laki yang tidak dia cintai. Mendengar kabar tersebut Tegar langsung mendatangi rumah Sekar dan meminta Sekar untuk memberinya kesempatan sekali lagi. 
Sekar membatalkan pertunangannya dan memilih Tegar. Sekar sudah membuat kesempatan dengan tangannya sendiri. Sekarang tinggal Tegar yang berperan. Tegar memutuskan untuk menikahi Sekar. Dia harus memikirkan cara untuk berbicara kepada anak-anak Rosie bahwa Paman terhebat dan keren mereka tidak bisa tinggal bersama mereka di GiliTrawangan. Disaat inilah Oma berbicara, Oma menceritakan kejadian masa lalu yang tidak diketahui Tegar. Pernikahan Rosie dan Nathan sempat ditunda enam bulan karena menunggu Tegar. Rosie mencintai Tegar.
Keputusan sudah Tegar ambil, dia tetap memutuskan untuk menikahi Sekar, gadis yang sangat mencintainya dan dia juga mencintai gadis itu. Meskipun Tegar masih mencintai Rosie dan anak-anaknya tapi itu dengan pengertian cinta yang berbeda.
Tibalah di acara pernikahan Tegar dan Sekar, ketika mereka berdua sedang melangkah bergandengan tangan ke tengah ruangan, saat itu pula Lili anak terkecil Rosie berlari dan memeluk kaki Tegar. Dia akhirnya berbicara setelah 2 tahun dia enggan berbicara dengan siapapun kecuali dengan Jasmine.
Kata-kata Lililah yang akhirnya membuat Sekar meminta Tegar untuk menikahi Rosie.
Tak ada jawaban yang pasti dalam Novel Tere Liye ini. Dia memberikan pertanyaan yang entah apa jawabannya. Apakah Tegar akan menikahi Rosie atau tetap menikahi Sekar. 





Aspek
Novel

1.      Alur

Maju
2.      Penokohan
Tegar: setia
Rosie: labil (ketika depresi)
Anggrek: dewasa
Sakura: ceria
Lili: pendiam
Jasmine: perhatian
Sekar: sabar
Nathan: tanggung jawab
Oma: bijaksana
3.      Latar
Kemang, Jakarta; Jimbaran,Bali; Cottage; Gunung Rinjani
4.      Tema
Persahabatan dan cinta
5.      Amanat
Sekuat apapun kita berusaha melupakan masa lalu, masa lalu itu akan semakin lekat di benak kita. Kita hanya boleh “berdamai” dengan masa lalu, bukan melupakannya.
6.      Sudut pandang
Orang pertama, pelaku utama (Tegar)
7.      Bahasa
Bahasa dalam percakapan sehari-hari
8.      Latar belakang pengarang
Tere Liye adalah salah satu novelis terkenal dan berbakat di Indonesia. Ia lahir di Bandung pada tanggal 21 Mei 1979. Nama asli Tere Liye adalah Darwis.“Tere Liye” merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa India dengan arti : untukmu, untuk-Mu. Ia berasal dari keluarga petani dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Berikut adalah riwayat pendidikan yang sudah ditempuh Sekolah Dasar ditempuh di SD Negeri 2 Kikim Timur Sumsel, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Kikim Timur Sumsel, setelah lulus SMP ia melanjutkan ke SMU Negeri 9 Bandar Lampung, lalu menempuh pendidikan ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
9.      Sosial budaya
Mengangkat hubungan sesama manusia dengan alam dan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari

I.                    

 II. Sinopsis Hikayat Hang Tuah
Hang Tuah adalah seorang pemuda miskin. Bapaknya bernama Hang Mahmud dan ibunya Dang MerduWati. Mereka hanya tinggal di sebuah gubuk di kampung Sungai Duyong. Bapaknya dulu pernah menjadi hulubalang istana yang handal. Sedangkan ibunya juga merupakan keturunan dayang istana
Banyak penduduk di Sungai Duyung mendengar kabar bahwa raja Bintana dalah raja yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. Waktu Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya untuk pergi ke Bintan mendapatkan pekerjaan untuk hidup yang lebih baik di tanah Bintan yang makmur.
Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Hang Mahmud seketika terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi-wangian. Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya. Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu Wati lalu langsung memandikan dan melulurkan anaknya.
Kemudian memberikan anaknya itu kain baju dan ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu Wati memberikan makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan Hang Tuah.
Besok harinya seperti biasa, Hang Tuah membelah kayu untuk persedian. Tiba-tiba pemberontak datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka-luka. Pemilik toko meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampung.
Negeri Bintan menjadi rusuh itu dan terjadi kekacauan dimana-mana. Semua orang melarikan diri ke kampung kecuali Hang Tuah. Lalu pemberontak itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya.
Ibunya, Hang Tuah berteriak dari atas toko dan menyuruh anaknya melarikan diri. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah dan menikamnya bertubi-tubi. Dengan sigap, Hang Tuah lalu melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelahlah kepala orang itu dan mati.
            Di lain pihak, sejak berada di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama-sama.
Hang Tuah dan empat orang kawannya: Hang Jebat, Hang Kasutri, Hang Lekir, dan Hang Lekiu menuntut ilmu bersama Adiputra di Gunung Ledang. Di tempat ini, Hang Tuah telah jatuh cinta pada Meloryaya itu putri asli yang tinggal di Gunung Ledang dan menjadi pembantu Adiputra.
Setelah selesai menuntut ilmu, mereka berlima kembali ke kota Malaka. Pada suatu hari, mereka berhasil menyelamatkan Dato Bendahara dari amukan seseorang yang berbahaya. Dato Bendahara berterimakasih dan kagum dengan ketangkasan mereka dan mengajak mereka semua ke rumahnya lalu mengajak mereka untuk bertugas di istana.
Kemudian Hang Tuah dan kawan-kawan sangat disayangi oleh Sultan dan akhirnya Hang Tuah mendapat gelar Laksamana. Waktu mendampingi mengiringi Sultan Malaka ke Majapahit di Pulau Jawa, Hang Tuah juga berhasil membunuh seorang pendekat Jawa bernama Taming Sari.
Dalam pertarungan itu Tarming Sari seorang pendekar yang kebal dari senjata tajam. Tapi, Hang Tuah tahu rahasia kekebalan Tarming Sari terletak pada kerisnya. Lalu Hang Tuah berhasil merampas keris dan membunuh Taming Sari. Keris itu kemudian dianugerahkan oleh Betara Majapahit kepada Hang Tuah.  Pemilik keris ini akan menjadi kebal seperti pendekar Jawa Taming Sari.
Pada suatu hari, Hang Tuah ditugaskan ke Pa Hang untuk mendapatkan Tun Teja yang akan dijadikan permaisuri Sultan Malaka. Ketika Hang Tuah ke Pa Hang, Melorya turun dari Gunung Ledang mencari Hang Tuah.
Tapi, Melorya telah ditawan oleh Tun Ali atas hasutan Patik Karma Vijaya untuk dijadikan gundik Sultan. Atas muslihat Tun Ali juga Hang Tuah yang kembali dari Pa Hang akhirnya dapat berjumpa Melorya.
Namun Sultan melihat perbuatan Hang Tuah itu. Lalu terjadilah fitnah. Maka Sultan menghukum Melorya dan Hang Tuah akan dihukum mati, karena dituduh berzina dengan Melorya yang telah menjadi gundik Sultan.
Tapi, kenyataannya hukuman mati tidak dilaksanakan oleh Bendahara tapi Hang Tuah disembunyikan di sebuah hutan di Hulu Melaka. Di lain pihak, Hang Jebat dilantik oleh Sultan menjadi Laksamana menggantikan Hang Tuah. Lalu keris Taming Sari telah dianugrahkan kepada Hang Jebat yang dulu adalah kawan dekat Hang Tuah. Hang Jebat menyangka Hang Tuah telah meninggal karena hukuman mati yang dijatuhkan oleh Sultan.
Kemudian, Hang Jebat atau Hang Kasturi melakukan pemberontakan kepada Sultan dan mengambil alih kekuasaan istana. Tidak seorang pun yang bisa melawan Hang Jebat baik itu pendekar atau panglima yang ada di Melaka, karena Hang Jebat sudah kebal dengan bantuan keris Taming Sari.
Sultan Mahmud terpaksa melarikan diri dan berlindung di rumah Bendahara. Akhirnya, pada waktu itu baginda baru menyesal telah membunuh Hang Tuah yang tidak bersalah. Inilah saatnya Bendahara memberitahu bahwa Hang Tuah masih hidup. Hang Tuah kemudiannya telah dipanggil pulang dan ditugaskan untuk membunuh Hang Jebat.
Akhirnya Hang Tuah berhasil merampas keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, setelah tujuh hari pertarungan. Lalu Hang Tuah membunuh Hang Jebat. Dalam pertarungan panjang ini, Hang Jebat menjelaskan bahwa dulu dia membela sahabatnya Hang Tuah yang telah difitnah dan dijatuhi hukuman mati oleh Sultan.
Tapi di lain pihak, Hang Tuah telah membantu Sultan yang sebelum itu menjatuhkan hukuman tanpa bukti yang kuat. Lalu Hang Jebat mengacup ada hadist Abu Bakar, Siddiq R.A bahwa jika seorang Muslim bersalah maka rakyat boleh menjatuhkannya. Berdasarkan alasan tersebut makanya Hang Jebat dulu memberontak pada Sultan dan berusaha menegakkan kebenaran.
            sumber: http://dayahantar.blogspot.com/

Aspek
Hikayat
1.      Alur
Maju
2.      Penokohan
Hang Tuah           = baik, bijak, berwibawa, berani
Hang Mahmud     = baik, perhatian
Hang Jebat           = membela kebenaran
Dang Merdu         = baik, perhatian, lembut
Sang Raja Bintan = mudah percaya dan mudah dihasut
Adiputra               = bijaksana, berwibawa
Melorya                = setia
3.      Latar
Sungai Duyung Bintan, Pasar, Istana, Sungai Perak, Pa Hang, Majapahit, Gunung Ledang
4.      Tema
Kepahlawanan
5.      Amanat
Sebagai pemimpin kita jangan hanya mendengar keterangan dari satu pihak saja, melainkan harus dari kedua pihak yang terlibat masalah, jangan mudah terhasut perkataan orang lain.
6.      Sudut pandang
Orang ketiga serba tahu
7.      Bahasa
Bahasa Melayu
8.      Latar belakang pengarang
Tidak diketahui
9.      Sosial budaya
Mengangkat nilai-nilai kepahlawanan di kerajaan




 III.  Perbandingan Secara Umum Novel dan Hikayat

Aspek
Novel
Hikayat
1.      Alur
Maju, mundur, campuran
Maju
2.      Penokohan
Tokoh bebas sesuai kehidupan nyata
Raja-raja, pendekar, panglima perang, tokoh-tokoh pahlawan
3.      Latar
Relevan pada masa itu, bisa di mana saja sesuai selera penulis
Umumnya berlatar belakang lingkungan kerajaan dan istana
4.      Tema
Bebas
Seputar kerajaan
5.      Amanat
Sesuai kehidupan yang relevan dengan  masa itu (realita)
Kepahlawanan, nilai-nilai moral positif. Amanat digambarkan melalui cerita-cerita yang terkesan di luar kemampuan manusia (imajinasi) seperti kesaktian dan kemukjizatan seseorang.
6.      Sudut pandang
Orang pertama dan orang ketiga
Orang ketiga
7.      Bahasa
Bahasa sehari-hari
Bahasa Melayu (menggunakan bahasa yang tidak lazim, klise)
8.      Latar belakang pengarang
Diketahui dengan jelas
Anonim (tidak diketahui)
9.      Sosial budaya
Mengangkat hubungan antarmanusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Novel lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mengangkat kisah seputar kerajaan.
 Semoga bermanfaat :)

0 komentar:

Poskan Komentar

Hello, thank your for the comment :)