Blog

Minggu, 08 Juni 2014

Cerpen-Mencari Napas

...terus berlari, berjuang...(foto saat meliput karnaval Kota Magelang untuk SIBEMA-Redaksi Berita SMANSA)-ilustrasi ini nggak nyambung sama cerpen, tapi valuenya tu lari-lari..
Happy reading, and remember: life is going on.

Mencari Napas

Life is going on. Jangan berhenti, karena waktu sedang berlari.
“Ren, kamu kenapa sih?” Dimas mencegat langkah Rena.
“Aku baik-baik aja, kok.” Rena mendesah.
***

 
Rumah adalah bui. Jeruji dinding yang mengikat sayap Rena untuk terbang. Tiga kamar yang tegak, bercakap-cakap sendiri tanpa tegur sapa. Jendela yang terbuka hanya menjadi tempat burung bertengger dan daun gugur untuk mengintip ketegangan rumah ini.
Sesak. Udara begitu pengap. Pot-pot bunga kering dan layu. Demikian dataran jiwa Rena yang mulai gersang. Rena merasa sepi, benar-benar sepi. Entah kepada siapa ia berkeluh kesah, menumpahkan endapan luka. Hari-harinya terbelenggu kediaman.
“Ibu, kenapa hanya diam saja?”
“Ibu tidak apa-apa, Ren.”
Tuhan, mengapa ini harus terjadi?
***
Dimas penghuni kelas XI IPA 2 SMA Nusantara. Akhir-akhir ini, ia berusaha mendekati Rena. Walaupun sudah mengenal Rena sekitar satu tahun lebih, ia merasa belum memahami cewek kutu buku tersebut.
Rena yang suka menyendiri ini tidak punya teman dekat. Padahal, beberapa hari terakhir desas-desus mengenai kasus penangkapan ayah Rena oleh polisi mulai menyeruak. Dan Dimas tahu benar, pada titik ini, Rena membutuhkan seorang teman.
Seperti pagi ini, Dimas menghampiri ruang sebelah kelasnya pada jam istirahat pertama. Dimas mendapati 99% penduduk kelas XI IPA 3 kabur ke kantin. Berkas sinar matahari yang hangat menerobos ke celah jendela dan mengantarkan bayangan pohon depan kelasnya. 
“Lagi ngapain, Ren?” Dimas menghambur ke kursi samping kanan Rena.
“Ngetik,” ujar Rena tanpa mengalihkan pandangan dari layar netbook.
“Cih, cuek amat sih?” ejek Dimas.
“Wah aku tersanjung. Selamat, Anda orang kesekian yang bilang aku cuek,” tukas Rena sinis.
Dimas menatap lembar kerja di monitor Rena. “Tulisanmu lumayan juga, Ren. Hehe..” timpal Dimas. Bola matanya asyik mengeja cerita Rena.
“Siapa suruh komentar?” Rena mengeryitkan dahi sedikit dan melirik masam sebentar ke arah Dimas dan kembali mengetik.
Dimas terus membaca kalimat-kalimat yang sedang diketik Rena. Tulisan yang disalin dari buku berwarna biru hasil kerja keras cewek berambut sebahu itu semalam. Cerita pendek yang harus Rena kirim ke surat kabar lokal di kotanya. Cewek yang dasarnya introvert dan kini semakin hening tersebut mulai sekarang berusaha mencari uang jajan sendiri.
Battery low.
“Dim, bentar deh,  aku mau pindah ke bangku Rista di pojokan kanan deket tembok,” ujar Rena.
“Yah, baru asyik baca nih, Ren!” sergah Dimas masih melotot di depan deretan huruf-huruf fiksi karangan Rena.
“Aku belum selesai ngetiknya tapi bateraiku habis,” ujar Rena dingin.
Tanpa minta persetujuan Dimas, Rena bergegas mengambil charger dari dalam laci mejanya dan menuju ke dinding sudut belakang kanan kelas. Rena mencolokkan charger ke dinding dan duduk di bangku Rista. Baru saja Rena duduk sambil merapikan meja Rista dan bersiap mengetik, Rena sadar bahwa ia lupa  membawa buku warna birunya. Mata Rena tertuju pada mejanya beberapa depa ke depan dari posisinya yang sekarang, dan sial.
“Hei, Dim, balikin.” Rena berdiri di samping Dimas. Dimas masih duduk di samping kursi Rena dan memegang buku biru Rena.
“Akhir ceritanya kok gelap sih? Kamu banget,” kekeh Dimas sambil mendongak ke arah mata Rena.
“Terserah.”
Dimas memerhatikan punggung Rena yang melangkahkan kaki ke sudut ruang kelas. Dimas tahu Rena sedang dalam masalah pelik. Dimas ingin menolong Rena, tapi ia tidak tahu caranya.
***
Tidak hanya di kelas, saat forum ekstrakurikuler jurnalistik pun, Rena sama saja hemat bicara. Di markas ekstrakurikuler seluas 4 x 3 meter ini, Rena dinobatkan sebagai pemegang rekor cewek paling tahan diam. Rena merasa tidak masalah dengan cap cewek pendiam itu.
Sebagai ketua ekstrakurikuler jurnalistik, Dimas ingin menjaga kekeluargaan dengan celetukan-celetukan konyol dengan harapan duapuluh anggotanya betah di markas. Berbeda dengan Rena, ia selalu tenggelam dalam naskah maupun bacaan beberapa sentimeter di depan wajahnya.
“Ren, ngomong dong,” Dimas mencoba mencairkan atmosfer ketegangan. Siang itu, kebetulan ada tugas yang mesti dikerjakan Rena di markas. Dimas bingung jika cuma terus diam berdua di markas redaksi sekolah ini.
“Emang aku patung?” Rena menjawab sekenanya.
“Ngobrol kek, ketawa kek, nggak cuma melototin berita sekolah doang,” Dimas mengamati kerutan dahi Rena.
“Ini lagi ngerjain tugas, Dim,” Rena beralasan.
“Tugas sih tugas, masak nggak liat kanan-kirimu?”
“Liat kok, nggak ada orang. Cuma kamu yang lagi nggak ada kerjaan,” Rena berkilah tanpa lepas dari monitornya.
“Duh, Ren, seenggaknya jadi anak ekskul yang normal lah. Kamu nggak pengen?”
“Kamu mau bilang aku abnormal?” Rena balik nanya.
“Bukan....maksudku,” Dimas menggaruk-nggaruk rambut cepaknya.
“Pak Ketua Dimas, udah selesai upload berita ke situs sekolah nih. Aku pulang duluan ya,”
Belum sempat Dimas membalas, Rena buru-buru mengemasi netbook dan ke tas punggungnya. Rena secepat kilat meninggalkan Dimas sendirian di markas.
Dimas semakin tidak paham dengan cewek berkacamata tersebut. Anak buahnya yang paling teliti dan cepat dalam menyunting ejaan bahasa Indonesia itu bikin Dimas bingung. Awak kapalnya yang kini sering pulang duluan tanpa alasan.
***
Tiap perjalanan pulang, Rena melewati pohon mangga milik Pak Edi, sekitar limapuluh meter sebelum rumahnya. Saat melewati jalan tersebut, Rena terngiang-ngiang akan tragedi penangkapan ayahnya. Dari bawah pohon mangga, Rena dengan mata lurus ke depan, melihat ayahnya diborgol oleh kawanan polisi. Mereka meringkus dan membawa ayahnya entah ke mana. Ibu berteriak memanggil-manggil ayahnya dari beranda rumah. Kejadian itu berlangsung cepat dan begitu mengikat ingatan Rena.
Sampai sekarang Rena tak mengerti dan enggan bertanya kepada Ibu tentang ayahnya. Ibu menjadi sedikit berbicara kepada Rena. Sedangkan kakaknya, Kak Deni, semakin jarang pulang karena kuliah di luar kota.
Keuangan keluarganya menipis, Rena merasakan itu. Maka Rena berusaha menulis cerita pendek untuk surat kabar lokal. Dengan harapan, ia mendapat pemasukan untuk membantu keuangan keluarga ini. Namun, sudah lima kali ia mengirim naskah ke Magelang Pos, tapi belum juga dimuat.
Rena menulis karena ia ingin bebas dari kediaman. Mengungkapkan apa yang ia rasakan tanpa repot ketahuan orang lain. Mengalirkan segala resahnya di atas kertas. Di langit, bulan pucat tergantung di balik awan gelap saat Rena larut dalam percakapan fiksinya, ia dikagetkan oleh dering ponselnya. Tertera nama Dimas di layar...
“Halo, Ren!” Dimas bersuara bersemangat sekali di ujung sana.
“Halo, Dim, ada apa?”
“Nggak apa-apa,”
“Oh kalo nggak ada apa-apa, aku matiin deh.”
“Wooiiiiii!!!!!! Kan aku yang telpon kok kamu yang matiin sih!” Dimas setengah berteriak.
“Komunikasi dua arah kalo salah satu nggak setuju ya nggak bisa jalan.”
“Iya, iya. Eh besok pulang sekolah ke ultahnya Silva barengan yuk? Aku diundang nih, Ren.”
“Nggak bisa. Mau ke kantor koran Magelang Pos.” Sebenernya karena nggak punya uang buat beli hadiah...
“Ngapain? Kamu nggak setia kawan sama Silva temen sebangkumu sendiri?” tanya Dimas lembut.
“Nggak,” jawab Rena dengan cepat.
Seize the day! Tau ‘kan artinya? Rebutlah hari, Ren! Kapan kamu punya waktu bahagia buat temenmu? Setidaknya akan ada kenangan tentang seorang teman!” ungkap Dimas ketus.
Rena paham maksud Dimas, tapi kini bukan waktu yang tepat untuk bertikai dengan cowok idealis itu.
KLIK!
***
Esoknya, usai bel pulang sekolah berbunyi, ia cepat-cepat keluar dari gedung sekolah. Dimas menyusul Rena sampai-sampai menabrak satpam sekolah yang menyeberangkan Rena. Sedangkan langkah Rena melewati zebracross tinggal lima langkah lagi menuju trotoar seberang. Tergopoh-gopoh Dimas mengikuti langkah cepat Rena.
“Hhhheii Ren! Tunggu!” Dimas berteriak.
Rena sampai di seberang menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia merasa aneh dengan sebentuk lelaki yang jelas-jelas semalam Rena menolak ajakannya untuk pergi ke ultah Silva.
“Ada apa, Dim?”
“Aku ngejar kamu, Reeen,” nafas Dimas tersengal-sengal.
“Aku ngejar waktu, Dim.” Rena tak peduli dengan kejaran Dimas.
Rena berjalan lagi. Rena berjalan cepat dan bahkan kini ia berlari. Dimas langsung mengikuti jejak Rena. Rena ingin cepat-cepat ke Magelang Pos untuk menumpuk naskah cerpen dan segera pulang ke rumah. Tadi pagi ibunya tak enak badan dan Rena khawatir karenanya.
Sepanjang trotoar mengkilau kena pantulan matahari. Ujung kepala Rena terasa pening, tapi Rena tak mau kalah dengan hembusan angin panas yang kencang.
Lima naskah lalu telah gagal, ini yang keenam, semoga kuraih napas!
Daun kering berserakan dan ranting-ranting meliuk-meliuk. Hambatan lalu-lalang pejalan kaki tak dihiraukannya. Rena melibas arah menuju satu titik. Dan Dimas mengikutinya.
Tinggal dua meter lagi, hap! Rena minta izin ke satpam Magelang Pos untuk bertemu dengan redaktur. Namun, redaktur sedang pergi ke luar kota. Padahal, jika bertemu dengan redaktur, ada harapan kecil untuk pemuatan naskahnya. Yah, meskipun itu sepersekian persen harapan.
Akhirnya, Rena menitipkan amplop coklat berisi naskah keenamnya kepada satpam, seperti yang ia lakukan kepada lima naskahnya yang belum menetas.
Rena berjalan gontai dan bibirnya dikerucutkan. Keringat dari keningnya menetes di poninya. Ia tertunduk sambil memegangi tas ranselnya. Selangkah demi selangkah Rena pulang, berbalik arah melewati jalan yang tadi tanpa memedulikan Dimas yang berdiri kepanasan di dekat gerbang kantor.
“Ren,” Dimas berjalan pelan sejajar dengan Rena.
“Hmm...” Kakinya menendang-nendang malas kerikil di trotoar.
“Sedih karena nggak ketemu redaktur?”
“Menurutmu?” pipi Rena menggembung.
“Ya ampun, jutek bener. Kenapa nguli kayak gini, Ren?”
“Mencari napas, Dim. Tapi belum pernah dimuat,” Rena menimba napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan.
***
Sejak pulang dari kantor Magelang Pos tadi siang, ia teringat selalu akan Rena. Tentang Rena yang berusaha mencari uang. Lepas dari kantor ayahnya bersama Rena, Dimas kemudian pulang dan urung pergi ke ultah Silva.
“Pa, cerpen di Magelang Pos itu Papa mengoordinir bukan?” tanya Dimas malam itu. Usai Dimas membuatkan secangkir kopi untuk papanya.
“Iya, kenapa, Dim? Kok tumben nanya, kamu kan doyannya berita, bukan sastra,” papa Dimas menyeruput kopi bikinan anak lelakinya.
“Papa pernah baca cerpen karya Rena Prameswari? Coba baca deh, Pa...”
Lalu Dimas menceritakan masalah kediaman Rena. Papanya tahu tragedi penangkapan ayah Rena pernah menjadi headline di surat kabar tempat ia bekerja.
“Kayaknya nggak ada tuh yang namanya Rena Prameswari. Beberapa hari yang lalu, Papa baca karya Ren Prawa. Apa mungkin dia? Karena pada nulis pakai nama pena, Dim. Seinget Papa, ceritanya gelap. Bagus kok, rencananya mau dimuat. Tapi, sekarang lagi antri dong naskahnya,”
“Gelap? Nuansa nggak terang gitu, Pa? Mungkin iya, soalnya kemarin Dimas baca sekilas cerpen yang dia ketik di kelas kayak gitu. Kasihan lho. Oh ya, Pa, Rena baik banget. Dia anak yang paling teliti EYD dan hemat kata di antara anggota ekskul jurnalistik sekolah, Pa,” tutur Dimas berbinar-binar.
Ayah Dimas manggut-manggut dan memandang anak lanang tunggalnya. Ia sadar bahwa bunga-bunga sedang mekar di hati Dimas. Jarang sekali Dimas menyebutkan nama anak perempuan di rumahnya.
***
5 Mei 2012, cerita pendek Rumah Bui yang ditulis Rena berhasil dimuat. Seminggu kemudian, Rena senang sekali ketika mengambil honorarium di kantor Magelang Pos.
Sehabis pemuatan cerpen perdananya, hampir setiap pagi Rena dikirimi puisi oleh seseorang. Rena tak habis pikir, untuk repot-repot menulis puisi untuknya yang diselipkan di laci mejanya? Buang-buang waktu saja.
***
“Sekarang banting stir ke sastra, Dim?”
“Enggak, Pa. Cuma baca-baca aja, kok!” Dimas mengelak.
“Zaman SMA Papa kalo lagi jatuh cinta juga gitu, Dim. Ngaku aja hayoo..”
***
Dimas melihat perubahan air muka Rena. Sudah agak mekar, cerah. Rena semakin rajin di depan monitor dan kecanduan untuk menulis, menulis, dan menulis.
“Ren, lagi ngapain?” Dimas menghampiri kelas Rena setiap istirahat pertama, masih seperti yang dulu.
“Ngetik,” mata Rena begitu serius di depan monitor.
“Cih, nggak berubah. Berubah ding, bedanya sekarang udah cari target honorarium ya,” tebak Dimas.
“Nggak juga. Eh, Dim, makasih ya.” Rena menghentikan ketikannya sejenak.
“Buat apa?” Dimas membulatkan bola matanya, takjub.
Rena menatap Dimas. “Apapun yang kamu lakukan, makasih udah menolongku untuk mencari napas. Setidaknya akan ada kenangan tentang seorang teman, ‘kan?”
Untuk pertama kalinya, Rena tersenyum kepada Dimas.
 ***


Cerpen ini menjadi juara favorit dalam even menulis Tidar Fiction Festival SMA-Mahasiswa se-Jateng & DIY Universitas Tidar, Kota Magelang.

Semangat berjuang :)


0 komentar:

Posting Komentar

Hello, thank your for the comment :)